Kolaborasi Akshay Kumar - Saif Ali Khan Haiwaan (2026) dan Ekspektasi yang Terlampau Tinggi
oleh Uziek · tentang Haiwaan · 11 September 2026
Industri perfilman Bollywood selalu memiliki cara untuk membangkitkan nostalgia sekaligus rasa penasaran yang luar biasa melalui reuni para bintang besarnya. Pada tahun 2026, salah satu proyek yang paling dinanti adalah film Haiwaan, sebuah thriller kriminal yang menandai kembalinya duet ikonik Akshay Kumar dan Saif Ali Khan di bawah arahan sutradara legendaris Priyadarshan.
Bagi para penggemar sinema India, kombinasi ini adalah resep sempurna untuk sebuah mahakarya. Namun, setelah resmi dirilis pada 11 September 2026, film ini justru memicu perdebatan sengit di kalangan kritikus dan penonton. Meskipun didasarkan pada fondasi yang kuat dari film asli Malayalam berjudul Oppam (2016), Haiwaan versi Hindi ini tampaknya terjebak dalam ambisinya sendiri, menghasilkan sebuah pengalaman menonton yang terasa hambar di beberapa sisi krusial.
Premis: Pahlawan Buta dan Dendam yang Membara
Haiwaan berkisah tentang Shyam (Saif Ali Khan), seorang pria tuna netra yang bekerja sebagai manajer pemeliharaan di sebuah apartemen mewah di Mumbai. Meskipun kehilangan penglihatan, Shyam memiliki indra pendengaran, penciuman, dan intuisi yang luar biasa tajam. Ia adalah sosok yang sangat dihormati di lingkungannya dan memiliki hubungan dekat dengan Hakim Pradhan (Boman Irani), seorang pensiunan Ketua Mahkamah Agung India.
Ketegangan dimulai ketika Hakim Pradhan mengungkapkan sebuah rahasia masa lalu yang melibatkan seorang narapidana berbahaya bernama Parshuram (Akshay Kumar). Parshuram, yang baru saja bebas, memburu semua orang yang dianggap bertanggung jawab atas kehancuran hidupnya, termasuk sang hakim. Keadaan menjadi kacau ketika Hakim Pradhan ditemukan tewas, dan Shyam menjadi tersangka utama sekaligus satu-satunya pelindung bagi putri sang hakim, Nandini. Premis ini sebenarnya memiliki potensi untuk menjadi thriller kucing-kucingan yang intens, namun sayangnya, eksekusinya terhambat oleh naskah yang kurang solid.
Mengapa Alur Haiwaan Terasa Melompat-lompat?
Salah satu kritik utama yang dialamatkan pada Haiwaan adalah penulisan skenarionya yang dianggap disjointed atau terputus-putus. Priyadarshan, bersama penulis Abilash Nair dan Rohan Shankar, tampaknya kesulitan menjaga ritme ketegangan di babak pertama. Film ini menghabiskan waktu yang terlalu lama untuk membangun latar belakang karakter dan subplot yang tidak selalu relevan dengan inti cerita thriller-nya.
Transisi antar adegan seringkali terasa kasar, di mana penonton dipaksa beralih dari drama keluarga yang melankolis ke adegan investigasi polisi yang datar tanpa jembatan emosional yang kuat. Ketidakteraturan ini membuat penonton sulit untuk benar-benar terikat dengan urgensi situasi yang dihadapi oleh Shyam.
Sebagai sebuah remake dari Oppam, Haiwaan sebenarnya setia pada materi aslinya, namun ia juga mewarisi lubang-lubang logika yang dalam versi Hindi ini terasa lebih mencolok karena durasinya yang mencapai 164 menit. Beberapa subplot, seperti masalah keuangan keluarga Shyam di desa, terasa seperti tempelan yang hanya bertujuan memperpanjang durasi tanpa memberikan kedalaman pada plot utama.
Musik yang Lemah: Kehilangan Jiwa Bollywood
Dalam sinema Bollywood, musik bukan sekadar pengiring, melainkan elemen yang membangun atmosfer dan emosi. Untuk film sebesar Haiwaan, keterlibatan komposer papan atas seperti Pritam Chakraborty seharusnya menjamin adanya lagu-lagu hits yang mampu memperkuat narasi.
Sayangnya, ulasan kritikus sepakat bahwa lagu-lagu dalam film ini tergolong lemah dan justru menjadi penghambat alur cerita. Lagu seperti Main Toh Nahi Haiwaan terasa tidak pada tempatnya dan merusak momentum thriller yang sedang dibangun. Alih-alih membantu membangun ketegangan atau memperdalam karakter, urutan lagu dan tarian dalam Haiwaan justru terasa seperti gangguan yang membuat durasi film menjadi membengkak secara tidak perlu.
Di saat penonton ingin melihat bagaimana Shyam menggunakan indra tajamnya untuk menghindari kejaran Parshuram, film ini malah berhenti sejenak untuk adegan perayaan yang tidak memberikan kontribusi signifikan pada perkembangan cerita. Skor latar belakang oleh Ronnie Raphael memang mencoba menutupi kekurangan ini dengan dentuman musik yang intens, namun tanpa dukungan melodi yang kuat, aspek audio film ini gagal meninggalkan kesan mendalam.
Saif yang Solid vs Akshay yang Terbatas
Dari sisi performa, Saif Ali Khan patut mendapat apresiasi atas upayanya memerankan karakter tuna netra. Saif berhasil menghindari karikatur dan memberikan dimensi pada sosok Shyam yang rentan namun tangguh. Caranya menggunakan tongkat, ekspresi wajah yang kosong namun waspada, serta penggunaan bahasa tubuhnya menunjukkan persiapan yang matang.
Di sisi lain, kembalinya Akshay Kumar sebagai antagonis seharusnya menjadi momen yang mendebarkan. Sebagai Parshuram, Akshay tampil dingin dan mengancam, namun karakterisasinya terasa kurang konsisten. Kadang ia terlihat sangat menakutkan sebagai predator yang tak kenal ampun, namun di lain waktu, motivasi dan tindakannya terasa klise dan dapat ditebak.
Chemistry antara keduanya saat berhadapan langsung adalah poin tertinggi dalam film ini, namun sayangnya adegan-adegan konfrontasi tersebut terlalu sedikit. Boman Irani memberikan penampilan yang tulus sebagai sang hakim, sementara Saiyami Kher dan Sharib Hashmi sebagai petugas kepolisian terjebak dalam karakter yang kurang berkembang dengan dialog yang kadang terasa canggung.
Klimaks Gagal Menutup Cerita dengan Ledakan
Sebuah thriller hanya akan diingat jika ia mampu memberikan penutup atau climax yang memuaskan. Dalam kasus Haiwaan, bagian akhir film ini dianggap underwhelming atau kurang menggigit. Setelah membangun antisipasi selama lebih dari dua setengah jam, konfrontasi final antara pahlawan buta dan penjahat yang penuh dendam ini berakhir dengan cara yang terburu-buru dan kurang dramatis.
Teknik penyelesaian konflik yang digunakan terasa terlalu sederhana dan mengabaikan kecerdasan yang sebelumnya telah dibangun pada karakter Shyam. Tidak ada kejutan besar atau twist yang mampu membuat penonton ternganga. Hal ini sangat disayangkan mengingat Priyadarshan dikenal karena kemampuannya menyusun adegan klimaks yang kompleks dan berenergi tinggi.
Dalam Haiwaan, klimaksnya terasa seperti kewajiban yang harus segera diselesaikan daripada puncak emosional dari perjalanan sang karakter utama.
Visi Priyadarshan dan Realitas Industri 2026
Priyadarshan adalah maestro yang telah memberikan kita banyak film klasik, mulai dari komedi gila hingga thriller yang intens. Namun, dalam Haiwaan, tampaknya gaya penyutradaraannya mulai terasa ketinggalan zaman untuk standar thriller modern tahun 2026. Audiens masa kini, yang sudah terbiasa dengan thriller cepat ala OTT (Over-The-Top), mungkin akan merasa frustrasi dengan tempo lambat dan drama yang berlebihan dalam film ini.
Meskipun sinematografi oleh Divakar Mani menampilkan visual Mumbai yang atmosferik dan penggunaan pencahayaan yang mendukung suasana mencekam, editing oleh M.S. Aiyyappan Nair seharusnya bisa lebih berani dalam memangkas bagian-bagian yang tidak perlu. Film ini terjebak di antara keinginan untuk menjadi thriller yang cerdas dan drama masala yang menghibur, namun akhirnya gagal menjadi keduanya secara maksimal.
Potensi yang Terbuang
Secara keseluruhan, Haiwaan adalah film yang memiliki niat baik namun gagal dalam eksekusi teknis dan narasinya. Naskah yang terfragmentasi, musik yang gagal mengangkat suasana, dan klimaks yang tidak memberikan kepuasan membuat film ini sulit untuk direkomendasikan sebagai tontonan wajib di bioskop. Meskipun penampilan Saif Ali Khan sangat layak untuk ditonton dan beberapa adegan aksi kucing-kucingannya cukup menegangkan, Haiwaan tetap terasa sebagai peluang yang terbuang untuk sebuah kolaborasi besar di tahun 2026.
Bagi penonton yang belum pernah menyaksikan versi aslinya, Oppam, film ini mungkin masih bisa memberikan sedikit hiburan. Namun bagi mereka yang mengharapkan sesuatu yang revolusioner dari duet Akshay-Saif, Haiwaan mungkin akan membuat Anda merasa hairaan (bingung) dan sedikit kecewa. Industri Bollywood harus belajar bahwa nama besar dan remake populer tidak lagi cukup jika tidak dibarengi dengan penulisan skenario yang tajam dan kepaduan artistik yang kuat.
Komentar (0)
Login untuk memberi komentar.